Maafkan saja …
Maaf..ini memang kata yang sangat sakral,bagi sebagian orang lebih susah untuk meminta maaf atas sebuah kesalahan..
Kesalahan apapun namanya mesti ada penghapusnya,kepada Allah dengan bertobat,kepada saudara dengan meminta maaf.sering memang kehilafan itu berulang,untuk sebuah masalah yang sama terulang dalam rentang waktu yang relatif singkat.
Kadang ketika kejenuhan melanda,tanpa batas kita sudah melompat pagar itu,ya sebuah kesalahan lagi.tak usah kau tumpuk lepaskan saja agar kembali putih.Karena merekapun akan mengalami apa yang kau rasakan ketika engkau memilih untuk bungkam,kawan..kasihanilah pada dirimu karena sesungguhnya engkau membuat kerangkeng untuk mengurung hatimu sendiri.
Kesalahan,bukan maksud untuk diulang di waktu depan,tetapi adalah sedikit keberanian untuk berbenah.Larena percayalah bahwa setiap kesalahan akan memadamkan cahaya..
jadi bila mereka datang untuk meminta maaf,hargailah karena itu butuh energi yang besar,menempatkan diri pada posisi dibawah,yang sunatullahnya manusia tidak inginkan..Maafkan saja-lah..karena bisa jade ini bentuk ujian keikhlasan engakau bersaudara..
Lamda I penuh kenangan
sungguh luar biasa,disini dalam mengangkat acara ini kita memang benar-benar diuji..
kesabaran,keistiqomahan dan kestiqohan..Tak terbayangkankan memang dalam tuntutan pengkaderan yang semakin mendesak,ternyata kita masih disibukkan dengan agenda pribadi yang notabenenya(afwan)tidak penting.
Memang benar bahwasanya tugas itu sudah diamanahkan,memang tidak mesti harus kita lagi,nah toh masih banyak yang lain,tapi coba bayangkan ketika yang lain berfikiran juga seperti kita maka kita sudah mengiqob orang lain dengan kelalaian kita..
Bukan begini sunatullah dakwah,ini bukan masalah pengikutnya yang sedikit,atau jalannya penuh onak dan duri,tetapi engkau,aku dan mereka yang menciptakan kondisi demikian.Bukan..tidak usah engkau sesali mereka yang berguguran di jalan dakwah karena engkalah yang memaksa pucuk itu untuk gugur…
Untuk itu saudaraku..cukupkan..biarkan engkau dan aku saja jadi korban kelalaian,tak usah kau wariskan…
Sahabat Saja..
Berteman saja dengan angin..
Dapat kau jumpai dimana saja..
Adukanlah masalahmu pada ombak.
Biar digulung dan dihempaskan ke pantai..
Hari ini kau bercerita masalah diri,kemaren masalah hati..
Benar sobat hidup ini adalah untaian masalah yang berkait
Tak usah kau putus..
Cukup kau tata saja,agar rapi..
Beriringan,menapaki jalan panjang ini adalah sebuah stimulan energy baru yang tak akan pernah berhenti.Mendaki,menurun,mendatar atau apapun analogi untuk sebuah masalah,akan terasa lebih ringan bila ada teman seperjuangan yang mendampingi.Mamapah ketika tertatih,membimbing ketika kepenatan melanda atau tertawa ketika jalan sudah menurun.
Sahabat..sebuah kata sederhana yang memiliki sejuta makna.Tertoreh dimana saja,dibuku harian,di album kenangan atau di pohon rambutan disamping rumah,ketika terbaca tetap akan memenuhi memori dan melambungkan kita pada saat-saat terindah.Ya..semuanya akan terasa begitu sempurna,walaupun dulu ketika kita bersama mereka sering berbeda pendapat,berdebat ataupun bertengkar.Begitulah nuansa hati ketika putihnya masih ada maka akan selalu memandang indah kenangan yang penuh dengan ungkapan andai saja..kalau saja..dan bila saja tidak..
Dengung dendang penyesalanlah yang akan selalu menggaung dalam hati,karena kita tidak bisa menjaga mereka.Keegoisan yang tak bisa menerima kritikan mereka,padahal kritikan itu diungkapkanya sebagai bukti bahwa ia menyayangi kita.Keculasan yang menyebabkan luka dihati mereka.atau prasangka yang menyebabkan jurang itu menganga antara gunung hati dengan mereka.
Akhi sebenarnya kalau kau mau tau itulah yang sebenarnya sahabat,merasa senang bila kau senang,susah bila kau terluka.Merasa bersalah karena ia tak bisa memberi solusi atau orang yang selalu memberi motivasi dan tak sungkan untuk mengkoreksi,diatas segalanya mereka adalah orang yang menginginkan keabadian persahabatan bersamamu karena Allah taala.
Masalah kita memang banyak,tetapi itulah yang namanya hidup,merangkak dari tapakan-tapakan masalah,terselesai atau tidak dia akan tetap menuntun kita kepenghujung,yang mengharuskan kita bertanggungjawab atas segala konsekuensi yang selama ini dilakoni.Tidak usah kau menunggu esok atau lusa lagi karena kau tidak pernah akan bisa benar-benar sendiri,disisi lain relung hatimu kau masih menyisakan ruang untuk seorang saudara,sahabat atau orang lain.Jumpialah mereka dan kemukakanlah agar ada lagi jembatan kepedulian dan berbagi antara kau dan dia.Tak usah lagi kau remukkan hatimu sendiri dalam kebuntuan otak dan berkecamuknya hati.
Akhi… kita adalah saudara..!!teman dikamarmu,diwismamu mereka sebenarnya adalah anugrah yang tak ternilai,yang setidaknya terbiasa dengan segala kerut dikeningmu,atau sunggingan senyum dibibirmu.Memahamimu lebih dari sekedar biasa,ikhwah atau akhwat manapun yang bersimpati disekelilingmu.Karena mereka juga turut andil bersama berdampingan dalam menapak hari harimu sadar ataupun tidak kau sadari mereka adalah sejarah hidupmu.Berikanlah sedikit kepercayaan dan secercah terang agar gelap tak bisa melingkupi persaudaraan dan wisma ini lagi.
Akhi bantu juga saudaramu agar bisa memahami bahwa waktu mereka sebenarnya adalah waktu yang diisi dengan amal dan kebaikan,bantulah mereka agar jangan larut dalam tawa yang hanya bisa mematikan hati.Bercanda yang membuat ada sangsi atas kemurnian persaudaraan ini.Kelepasan berbicara atau kesalahan dalam berbuat itu biasa,tetapi itu tak lagi biasa bila sering dan menyakitkan hati.
Akhi..Jagalah mereka karena ia adalah anugrah,belum tentu kau menemukan sahabat yang lebih baik dari mereka,seperti yang selama ini kau impi-impikan.Bisa jadi ini kesempatan pertama dan terakhir bagimu untuk mendapatkan sahabat seperti mereka,berlepas dari segala kekurangan yang dimilikinya,tetapi mereka tetaplah yang terbaik yang pantas kau syukuri.
Ada saat ketika nanti tak bersama mereka kau akan merasa ada sisi hatimu yang hilang.Kesakitan mereka juga sedikit banyaknya akan melukai hatimu juga,walaupun kau berpisah atas nama sahabat,teman atau musuh sekalipun.tetap saja akan meninggalkan pedih yang tak berhingga.
Karena tak lengkap rasanya bila aku,engkau dan mereka tidak bisa lagi berkumpul sperti ini di Sorga-Nya yang terindu.
Kalo Itu memeng Elo..!!
Siapa yang menguasai kampus hari ini,maka dia akan menguasai negara sepuluh tahun lagi.
Tidak terlalu muluk bila demikian,karena ketika kita berpikir lebih jauh maka rekan-rekan mahasiswa yang ada hari ini adalah utusan terbaik dari negeri merka masing-masing,atau lebih tepatnya Iron stock untuk pengganti kepemimpinan di esok hari.
Sebuah kerja besar sebenarnya yang terpikul dipundak aktivis dakwah kampus,kerja substansial yang bisa merubah sebuah peradaban,dalam artian penentu nasib bangsa ini,terserah mau kemana mereka mau mengarahkannya nati.Nah untuk itu perlu kerja keras untuk persiapan dan penempaan terhadap mereka,setidaknya mereka terpola dengan kebiasaan baru bukan lagi ”warisan” kebiasaan buruk generasi lalu atau sekarang.
Tetapi sayangnya fenomena yang ada sekerang ini,baik dalam lingkungan kampus,maupun diluar kampus adalah sebuah ‘keprihatinan’. Dimana terpampang jelas terjadinya berbagai kesenjangan baik yang terorganisir maupun yang tidak terorganisir dengan rapi,baik yang di design maupun accident.Sebut saja aturan bangsa ketimuran,berapa banyak pelanggaran terhadap nilai-nilai sosial dan tenggang rasa yang selama ini selalu dijunjung tinggi,apalagi bila berbicara maslah agama,yang bila kita mau jujur tidak berapa dari umat isalam indonesia ini yang benar-benar melaksanakan semua kaidah dan ketentuan serta tuntunan Islam yang mulia ini.Kepemimpinan yang tidak merakyat,yang compang camping dan disulam dengan benang yang salah,sehingga sangat kentara walau dilihat dari kacamata siapa dan jarak sejauh manapun.
Dengan mengatasnamakan rakyat para pejabat mencoba mengumpulkan kain perca yang baru untuk menambal bangsa yang lusuh,jelas saja sangat kentara,kesenjangan antara pejabat dan rakyat begitu terasa.Rakyat mencoba mengais dan mengumpulkan sedikit rezeki dari hasil keringat dan debu,tetapi betapa banya proyek besar dan aset negara yang hanya dinikmati oleh sebagian orang saja.Sungguh bila seandainya tanah ini bisa berbicara pasti merka menolak untuk diinjak dan diforsir untuk kepentingan “semu”tersebut.
Semuanya terpampang jelas,dengan sedikit saja melongok kebangsa yang mendapat Penghargaan demokrasi ini,maka seakan kita melihat kaca transparan,yang melihatkan sisi positif dan negatifnya.Sekarang sudah saatnya kita bangkit,tidak perlu mengumpat,tetapi berbuatlah semampu kita.Ya sekarang dengan titel kita sebagai mahasiswa berfungsi control sosial di harapkan berperan besar terhadp perbaikan borok bangsa ini.Mulailah dari diri ,keluarga dan lingkungan kita.
Kalaulah dunia yang kacau balau ini diserahkan kepemimpinannya pada Muhammad SAW maka pasti tidak akan ada lagi kekacauan didunia ini,dan mereka hidup dalam satu kesatuan. (Pemimpin yang berpengaruh)
Itu bukanlah hal yang mustahil untuk kita lakukan,jangan melihat bahwa diri kita masih belum pantas,kampus kita masih belum futuh,tetapi lebih dari itu teriakkan pada diri kita bahwa kita pasti bisa merubahnya!Maka ketika kita bertekad demikian harus tidak ada lagi kata tunggu,mulailah dan hilangkanlah kebiasaan menunda walau dalam hal sekecil apapun.
Cobalah untuk merancang sebuah visi yang jelas yang akan memotivasi diri kita untuk bangkit ketika kemauan melemah.Masalah fakultas sangatlah kecil sebenarnya terhadap potensial yang di anugrahkan Allah pada kita,bahkan dengan jumlah kader sekitar 1300 orang sebenarnya unand ini begitu sempit untuk bergerak,perluasan dakwah sebenarnya bukan lagi dilingkungan kampus,tetapi menjamah lingkungan yang berada diluar bahkan jauh dari kampus Unand ini.Seharusnya yang kita benahi bukan lagi masalah internal kader,itu sudah basi.Sebut saja materi ruhiyah,komunikasi atau apalah namanya semuanya adalah makanan kader setiap kali melaksanakan dauroh.Lantas salahnya Dimana?
Salahnya kita tidak sungguh-sungguh karena Allah,Atau visi kita kurang tepat.Seandainya Allah tujuan kita maka Dia menjanjikan syurga yang maha indah,lalu motivasi apakah yang lebih besar dari ini?coba tanyakan manusia mana yang bisa membayar mahal kerja “biasa”dengan bayaran yang “luar biasa”.Bayangkan Allah akan membalas dengan surga yang luasnya seluas langit dan bumi,yang pasirnya saja adalah permata yang mutunya jauh lebih baik dari permata terbaik yang ada dibumi ini.
Ikhwatifillah,maka renungkanlah sejenak sudahkah kita optimal dalam dakwah kampus ini,sehingga kita memang pantas untuk balasan Syurga,atau kita hanya separoh hati?
Orang kafir saja bersusah-susah,memberikan segenap kemapuannya,harta bahkan jiwanya demi keyakinanya yang bagi keyakinan Islam mereka pasti akan mendapat balasan Neraka,Tetapi kenapa kita masih bermalas-malas untuk sesuatu balasan besar?
Allah menggambarkan bahwa kegelapan jahilliyah dapat dikalahkan oleh cahaya Islam,Nah seperti kita ketahui bahwa kegelapan itu bukanlah materi,tetapi itu hanya penamaan ketika cahaya tidak ada,jadi tidak usah meringkuk takut dibawah gelap sebab gelap mudah dikalahkan walaupun hanya dengan sebatang lilin.Nah nyalakanlah lilin-lilin kita,walaupun belum bisa menerangi dunia ini seterang matahari,tetapi cukup untuk mengusir gelap ruangan kita.
Setahun sebelum Rasulullah akan hijrah kemadinah,beliau mengutus Mushab bin Umair,seorang anak muda yang umurnya baru 20 tahun,anak mama,biasa dilayani dan belum banyak pengetahuannya tentang Islam,dengan sebuah tantangan ’Wahai Mushab datanglah ke Madinah dan ketika tahun besok kami hijrah ke Madinah tidak ada satu rumah disana yang kami kunjungi pasti ada orang Islam didalamnya’
Nah lalu bagaimana dengan kita?apakah kita merasa lebih muda,lebih manja atau sebaliknya kita pasti bisa membuktikan bahwa Unand ini akan futuh dibawah cahaya Islam tahun besok.? Wallahua’lam.Teriakkanlah Allahuakbar bukti kita sudah kembali bangkit..!!